Gue pernah ngalamin kejadian menyebalkan pas kerjasama dengan salah satu media di Jakarta . Mereka telpon ngasih penawaran show buat band yang gue manajerin di sebuah sekolah, a surprise show. Sponsornya salah satu provider ponsel terkemuka. Band kita menjadi satu-satunya band yang manggung di sana . Mereka nggak bisa menyediakan artist fee, it's OK, hal yang lazim kalo kita kerjasama dengan media atau underground gig. Yang penting cost produksi dan road crew band kita dapet honor, itu yang penting dan utama. Benefit lain bisa didapet dari media itu dengan dibarter promosi, misalnya. Setelah negosiasi dengan penawaran benefit yang laen mereka bilang bakal mendiskusikan dulu dengan atasan. Setelah itu mereka nggak pernah kontak gue lagi dan jreeeng... tiba-tiba nama band kita udah dipromosikan dimana-mana, iklan radio & poster, padahal belom ada kontrak sebelumnya (bahkan sesuatu yang berbentuk draft kontrak pun gak pernah gue terima). Walau kesel tapi...
Institut Kesenian Jakarta adalah kampus yang banyak mencetak “gembel naik kelas.” Gembel-gembel yang kemudian sukses menjadi rockstars . Naif, Clubeighties, The Upstairs, The Adams, Rumahsakit hingga White Shoes & The Couples Company adalah beberapa di antaranya. Siapa sangka band-band tersebut awalnya ngeband karena iseng-iseng belaka? Oleh Wendi Putranto Foto Oleh Timur Angin “Tahun ini udah tiga kali kami reuni. Mudah-mudahan ini benar-benar reuni kami yang terakhir dan tidak ada reuni lagi di masa depan,” ujar Andri, vokalis Rumahsakit dengan nada datar seraya menurunkan stand mikropon yang terlihat agak ketinggian bagi dirinya. Para penonton yang mayoritas mahasiswa Institut Kesenian Jakarta [IKJ] hanya tersenyum saja mendengar ucapannya. “Sebelum ada Rumahsakit, musik di IKJ cuma Rolling Stones, The Doors dan Bob Marley,” puji Ricky MH Malau dan Jimi Multhazam usai Rumahsakit manggung. Dua orang berkarakter keras tersebut malam itu menjadi MC bagi ac...
Bagi sebagian besar anak-anak muda jaman sekarang konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan tahun 1975 itu bagaikan mitos. "Deep Purple konser seluruh Jakarta mati listrik," "Tommy Bolin sempat belanja drugs di Kalipasir, Cikini," "Personel Deep Purple Belanja Vinyl di Jalan Surabaya," dan sebagainya. Hampir semua orangtua yang besar di paruh dekade '70an agaknya menyaksikan konser supergrup rock dunia ini. Bahkan ayah dan ibu saya juga hadir di tempat tersebut. Ayah sangat paham karena dia rockhead, namun ibu datang semata-mata untuk menemani sang pacar. Sebuah bentuk kongkret dari istilah kesetiaan :) Intinya, siapapun yang tidak menyaksikan konser Deep Purple saat itu harus rela menerima cap terbelakang, ndeso. Hehehe. Dicuplik dari film dokumenter "Untuk Kaum Muda" berikut ini adalah foto-foto Deep Purple sejak mereka tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, arak-arakan mobil penjemput di Thamrin, Press conference di Hotel Mandarin, konser ...
Komentar
Posting Komentar