Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik. Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman. Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label). Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka d ivisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manaj...
Gue pernah ngalamin kejadian menyebalkan pas kerjasama dengan salah satu media di Jakarta . Mereka telpon ngasih penawaran show buat band yang gue manajerin di sebuah sekolah, a surprise show. Sponsornya salah satu provider ponsel terkemuka. Band kita menjadi satu-satunya band yang manggung di sana . Mereka nggak bisa menyediakan artist fee, it's OK, hal yang lazim kalo kita kerjasama dengan media atau underground gig. Yang penting cost produksi dan road crew band kita dapet honor, itu yang penting dan utama. Benefit lain bisa didapet dari media itu dengan dibarter promosi, misalnya. Setelah negosiasi dengan penawaran benefit yang laen mereka bilang bakal mendiskusikan dulu dengan atasan. Setelah itu mereka nggak pernah kontak gue lagi dan jreeeng... tiba-tiba nama band kita udah dipromosikan dimana-mana, iklan radio & poster, padahal belom ada kontrak sebelumnya (bahkan sesuatu yang berbentuk draft kontrak pun gak pernah gue terima). Walau kesel tapi...
Komentar
Posting Komentar